Andik Irawan, S.Pd.I – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik
Hadirin yang saya hormati,
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering membicarakan keamanan dan ketertiban—atau yang kita sebut Kamtibmas. Namun jarang kita sadari bahwa salah satu fondasi paling kuat bagi tegaknya Kamtibmas adalah keyakinan agama yang benar, yang dianut dan dipahami secara sadar oleh setiap warga.
Mengapa demikian? Karena seseorang yang berpegang pada keyakinan yang benar, akan diarahkan oleh ajaran-ajaran yang lurus, jernih, dan mengajak pada kebaikan. Hidupnya tidak berjalan dengan akal sendiri yang terbatas, tetapi dibimbing oleh wahyu dari Tuhan yang tak terbatas. Dan orang seperti inilah yang paling mudah taat pada aturan, paling mudah dijaga, dan paling sulit melakukan pelanggaran.
Namun bagaimana kita menemukan keyakinan yang benar itu? Di sinilah pentingnya proses pencarian yang cerdas dan ilmiah. Ada lima hal pokok yang harus dikaji dalam mempelajari kitab suci agama-agama besar di dunia.
Pertama: Originalitas kitab suci.
Apakah kitab tersebut masih asli? Apakah teksnya tetap sebagaimana pertama kali diterima? Jika sebuah kitab tidak terjamin keasliannya, maka ajaran yang diikuti juga akan kabur. Dan ketika ajaran kabur, moral masyarakat ikut kabur—dan Kamtibmas pun melemah.
Kedua: Sejarah turunnya kitab suci.
Bagaimana proses wahyu itu diterima? Tercatatkah dengan jelas? Terjagakah periwayatannya? Jika sejarahnya kuat, maka pijakan keyakinan semakin kokoh. Warga yang memiliki pijakan kokoh akan hidup lebih stabil, tidak mudah goyah, dan tidak mudah terprovokasi.
Ketiga: Isi dan kandungan kitab suci.
Apakah isinya sejalan dengan akal sehat? Ajaran agama sejatinya tidak mungkin bertentangan dengan akal, justru mengangkat akal ke tempat yang mulia. Jika isinya lurus, maka masyarakat yang mengikutinya juga akan lurus. Dan lurusnya masyarakat adalah modal emas bagi suksesnya Kamtibmas.
Keempat: Tidak adanya ajaran yang saling bertentangan.
Kitab suci adalah petunjuk Tuhan. Jika ada ajaran yang kontradiktif, maka masyarakat akan bingung, dan kebingungan moral selalu menghasilkan kekacauan sosial. Tetapi jika kitab itu konsisten dari awal sampai akhir, maka yang lahir adalah pribadi yang juga konsisten—taat hukum, menjaga harmoni, dan menjunjung ketertiban.
Kelima: Kejelasan penyebutan nama Pencipta alam semesta.
Kitab suci yang benar tentu memperkenalkan dengan jelas siapa Tuhan, siapa yang menciptakan dan mengatur kehidupan ini. Kejelasan ini membuat manusia tunduk kepada satu otoritas tertinggi—bukan kepada hawa nafsu, bukan kepada manusia lain. Jika setiap warga tunduk pada Tuhan, maka Kamtibmas bukan lagi sekadar aturan polisi, tetapi menjadi kesadaran kolektif.
Hadirin sekalian,
Jika kelima pertanyaan pokok ini terjawab dengan baik, barulah seseorang memutuskan untuk memilih suatu keyakinan. Setelah memilih, barulah akal berfungsi sebagai pendukung teknis, bukan sebagai penentu moral utama. Akal mengatur cara, tetapi agama mengatur tujuan.
Dan di sinilah Kamtibmas bersemi.
Warga yang keyakinannya benar, akalnya terarah, imannya kuat, akan menjadi warga yang taat aturan, mencintai kedamaian, tidak mudah melakukan kejahatan, dan tidak mudah dihasut untuk membuat kerusuhan. Polisi pun lebih mudah bekerja karena setiap warga telah menjadi penjaga ketertiban bagi dirinya sendiri.
Maka marilah kita memperkuat Kamtibmas dari akarnya:
dengan mencari, memahami, dan memegang teguh keyakinan yang benar.
Karena ketika hati terarah oleh wahyu, maka hidup tertib; ketika hidup tertib, maka masyarakat aman; dan ketika masyarakat aman, maka negeri ini diberkahi Tuhan Yang Maha Esa.
Terima kasih. Semoga bermanfaat.